![]()
CHANEL7.TV, BEKASI – Tokoh nasional DR Rizal Ramli mengaku selama beberapa hari terakhir, kediamannya di Kawasan Jakarta Selatan telah diintai. Menurutnya, beberapa intel telah terlihat di sekitar rumahnya, bahkan saat pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional yang diadakan baru-baru ini.
Rizal Ramli, yang akrab dipanggil RR, selalu terbuka untuk menerima tokoh dan mahasiswa yang ingin membahas masalah-masalah nasional. Meskipun ia sering mengkritik kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, RR menyesalkan tindakan sejumlah oknum yang kerap berlalu lalang mengintai kediamannya.
“Ya benar,” kata RR saat dikonfirmasi terkait intel tersebut.
“Negara quasi-otoriter itu ya negara intel, semua di-intelin demi kepentingan politik penguasa,” kata ekonom senior ini, Senin (22/5/2023).
Baginya, posisi Polri yang multifungsi sudah terlalu jauh dari tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Hal ini berbeda dengan keberadaan TNI yang sudah jauh dari dwifungsi sejak tahun 2000-an.
“Kapan Polri berhenti multi-fungsi? Reformasi Polisi sangat perlu. Jangan mau dijadikan sapu kotor politik kekuasaan,” tandas mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini.
Kesalahan Fatal
Terpisah, Direktur Gerakan Perubahan (Garpu) Muslim Arbi mengatakan, jika benar kediaman Rizal Ramli dipantau untuk mengetahui aktivitas penghuninya maka tindakan tersebut adalah langkah yang salah. Memantau rumah seorang tokoh senior seperti Rizal Ramli yang diduga oleh aparat negara merupakan suatu kesalahan yang fatal.
“Kenapa kesalahan fatal? Karena tugas negara itu menjamin keamanan jiwa dan harta warga negaranya termasuk tokoh senior seperti Rizal Ramli, dan tokoh lain yang selama ini bersikap kritis terhadap pemerintah,” ujarnya Muslim Arbi kepada Harian Terbit, Senin (22/5/2023).
Muslim menegaskan, sikap kritis adalah amanat konstitusi untuk mengontrol pemerintah, DPR maupun penyelenggara negara lainnya termasuk aparat penegak hukum (polisi, jaksa juga KPK). Oleh karena itu ada yang vokal dan kritis seperti Rizal Ramli dan ternyata aktivitasnya dipantau oleh pihak tertentu maka tindakan tersebut keliru dan salah besar.
“Justru yang perlu dilakukan oleh rezim adalah mengoreksi diri dan lakukan perbaikan atas jalannya pemerintahan. Bukan memusuhi atau mengirim intel untuk menata-matai. Emang kita hidup di jaman penjajahan ? Sehingga harus di inteli?” tanyanya.
Muslim juga menceritakan pengalaman pribadinya atas pihak-pihak yang memantaunya. Biasanya ia dibuntuti oleh kendaraan tertentu berupa mobil atau motor. Termasuk saat mengikuti acara diskusi di Guntur 49 bersama Sri Bintang Pamungkas) dan teman – teman aktivis lainnya. Dalam diskusi tersebut juga kerap dihadiri oleh orang-orang yang tidak dikenal, yang bisa diduga orang tersebut adalah Intel.
“Jadi sangat tidak menarik ada Intel untuk tongkrongi acara-acara aktivis yang kritis. Tapi Intel-Intel itu tidak kerja untuk keselamatan negara,” jelasnya.
Jadi, lanjut Muslim, kerjanya intel, bukan malah memata-matai para aktivis. Termasuk Bang RR dan lain nya. Itu keliru besar,” tandasnya.















