
CHANEL7.TV, PELAIHARIÂ – Teknologi pengolahan air bersih hasil karya H Imam Maliki, warga Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), mulai merambah daerah lain.
Setidaknya saat ini teknologinya yang ramah lingkungan tersebut hadir di Kabupaten Barito Kuala (Batola) dan di Kalimantan Tengah (Kalteng). Lebih dari itu juga, menasional, menjamah Bali.
Informasi dihimpun, Senin (24/7/2023), di Kabupaten Batola, teknologi air bersih tersebut hadir di Desa Rimbuntulang, Kecamatan Kuripan. Instalasi pengolahannya dikerjakan sejak beberapa waktu lalu dan saat ini siap didistribusikan.
“Bahan bakunya (air asal) dari kawasan rawa setemat yang warnanya pun kecokelatan. Kami olah menjadi jernih, segar, dan sangat higienis untuk air minum,” ucap Imam.
Ia menuturkan kolam pengolahan air bersih di Rimbuntulang tersebut berkapasitas 1.444 meter kubik.
Kurang lebih sama dengan yang ia bangun di Desa Swarangan, Kecamatan Jorong (Tala), pada September 2021 yang berukuran 20x25x5 meter.
Biaya pembangunan instalasi tersebut sebesar Rp 500 juta bantuan dari bank daerah melalui program CSR (corporate social responsibility).
“Airnya sudah siap didistribusikan, tinggal membikin pipanisasi untuk menyalurkan ke rumah-rumah warga saja,” tandas Imam.
Setelah itu, dirinya juga akan menggarap air bersih di wilayah Jejangkit, Batola, dan selanjutnya di Kalteng.
“Senin hari ini saya ke Kalteng untuk presentasi di perusahaan besar swasta kelapa sawit di sana. Mereka juga antusias,” paparnya.
Pada Desember mendatang, dirinya juga memulai proyek pengolahan air bersih di lingkungan bandara baru Bali Utara di Buleleng.
“Di sana saya akan menggarap pengolahan air bersih dengan kolam yang berada di tengah laut. Saya diminta menyediakan kapasitas 1.100 liter per detik,” sebut Imam.
Dirinya juga menegaskan komitmen untuk membantu warga yang Krisis Air Bersih di pesisir Kecamatan Jorong, Kintap, Takisung, dan Kurau, semua di Kabupaten Tala.
Pada 2021, dia telah sukses membangun instalasi pengolahan air bersih di Desa Swarangan, bekerja sama dengan pemerintah desa setempat, dengan biaya sekitar Rp 450 juta.
“Hanya saja di sana pemeliharaannya yang kurang optimal dari pihak pengelola. Harusnya tiap bulan atau setidaknya per enam bulan mesti dilakukan penaburan kembali karbon aktif. Tapi sampai sekarang belum dilakukan. Memang airnya masih bagus, tapi tentu lama-lama akan turun kualitasnya,” kata Imam.
Dirinya berharap Pemerintah Kecamatan Jorong dapat melakukan pembinaan agar instalasi air bersih tersebut dapat terpelihara secara memadai. Termasuk, memperbaiki mesin pompa airnya jika mengalami kerusakan.
Lebih dari itu diharapkan dapat mengembangkan di desa lainnya yang juga masih kerap kesulitan air bersih. Di Kecamatan Jorong itu masih ada sepuluh desa lagi yang perlu air bersih.�
“Kalau Pemdes tak ada dana, kan bisa minta bantuan perusahaan melalui program CSR sebagaimana yang ada di Kabupaten Batola. Perusahaan kan memang wajib melaksanakan program CSR,” cetus Imam.
Selain di Batola, sebutnya, dirinya juga lebih dulu menggarap proyek air pengolahan air bersih di Desa Sungaimusang, Kecamatan Aluhaluh, Kabupaten Banjar.
Dananya juga bersumber dari CSR, yakni sekitar Rp 200 juta, dengan kapasitas lebih kecil dibanding di Batola dan Swarangan.
Teknologi pengolahan air bersih yang ditemukan Imam merupakan hasil risetnya sejak sekitar lima tahun lalu.
Saat itu dirinya melakukan riset bersama profesor dari Singapura dan Institut Teknologi Bandung (ITB), guna mengolah air payau menjadi air layak minum melalui sistem CHC (charcoal high carbon).
Menggunakan bahan herbal seperti kayu-kayuan hutan tropis Kalsel, ia membikin karbon aktif yang menjadi salah satu bahan alami penjernih dan penetralisasi air payau, air asam dan lainnya.
Pengaplikasian karbon aktif dan beberapa bahan alami lainnya terbukti mampu menetralisasi air payau menjadi higienis dan langsung bisa diminum. Ini sesuai tiga kali hasil lab terpercaya di Banjarbaru pada 20 November-3 Desember 2020.
Contohnya, kadar prosentase of hydrogen (pH) yang awalnya 5,70 setelah diolah naik menjadi 7,90. Batas baku mutu pH 6,5-8,5. Turbidity (kekeruhan) dari 14,7 kemudian turun hanya menjadi 1,11. Batas baku mutunya pada angka 5.











