
CHANEL7.TV, JAKARTA – Pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan menjadi prioritas PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kedepan. Hal tersebut salah satunya ditentukan dari kemampuan BRI mengelola sumber dana dan liabilitas yang tetap memiliki struktur liabilitas sehat di tengah era suku bunga tinggi, serta kondisi perekonomian global yang belum sepenuhnya stabil.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, terdapat tiga indikator untuk mengukur kesehatan bank, yakni kualitas kredit, likuiditas, dan rentabilitas. Menurutnya, di tengah era suku bunga tinggi dan kondisi ekonomi yang masih berupaya pulih akibat pandemi, salah satu kebutuhan utama bank saat ini adalah mengelola likuiditas.
Strateginya yakni dengan menjaga pertumbuhan sejumlah komponen pada liabilitas. “Artinya kalau liabilitas bank itu tumbuh, bank masih mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menaruh dananya,” katanya. Sebaliknya, bila pertumbuhan liabilitas bank stagnan atau justru malah mengalami koreksi, bank akan menarik modal untuk ekspansi kredit.

Ia melanjutkan, pertumbuhan liabilitas yang didorong oleh DPK membuat bank memiliki likuiditas yang mumpuni untuk menyalurkan kredit. Akan tetapi perlu dicatat, kata Trioksa, liabilitas yang baik didukung oleh rasio dana murah atau current account savings account (CASA) yang bergerak naik.
Dana murah akan membuat bank lebih leluasa mengatur margin bunga. Bank pun menjadi mampu menawarkan suku bunga kredit yang lebih kompetitif. “Kalau dana mahalnya banyak, bank pasti akan memberikan [bunga] kredit yang tinggi untuk mengimbangi beban bunganya,” kata Trioksa.
Lebih lanjut, CASA akan menekan beban dana atau cost of fund (COF) bank. Hal ini akan memberikan dampak positif kepada bottom line perusahaan. “CASA ini bisa didapatkan dengan banyak cara, salah satunya lewat digitalisasi,” katanya.
Sementara itu, satu bank yang tercatat memiliki pertumbuhan CASA yang tinggi adalah BRI. Dari sisi pendanaan, BRI mampu menghimpun DPK sebesar Rp1.255,45 triliun atau tumbuh double digit sebesar 11,45% yoy dengan penopang utama pertumbuhan dana murah atau CASA yang tumbuh 13,01% yoy menjadi Rp810,09 triliun.
Fokus BRI mengakselerasi kemampuan dalam menghimpun dana murah tersebut membuat rasio CASA meningkat menjadi 64,53%. Angka ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar 63,63%. Hal tersebut pada akhirnya meningkatkan efisiensi bank dalam mengelola dana.

Sementara itu, Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu mengungkapkan bahwa faktor yang mendorong keberhasilan BRI mencetak laba impresif adalah keberhasilan melakukan transformasi yang difokuskan dengan memperbaiki struktur liabilitas.
“Kami berhasil memperbaiki struktur liabilitas yang menjadikan kami semakin efisien. Karena kami sadar kondisi ekonomi masih menantang, sehingga kami mampu untuk terus tumbuh dan berkembang, dan memberikan kinerja terbaik untuk seluruh stakeholders,” ungkap Viviana.
Hal tersebut berdampak terhadap tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) misalnya naik 464 bps menjadi 23,75% dan tingkat pengembalian aset atau return on assets (ROA) naik 43 bps menjadi 3,27%.
Seperti diketahui, laba bersih perseroan secara konsolidasian pada kuartal I-2023 mencapai Rp15,56 triliun atau tumbuh 27,37% year on year (yoy), sedangkan sepanjang tahun 2022, laba BRI mencapai Rp51,4 triliun, naik sekitar 67,15% secara tahunan. Capaian tersebut salah satunya disebabkan karena keberhasilan BRI dalam mengefisienkan biaya dana.















